Mendengar kata Guardian mengingatkan saya pada seseorang wanita perkasa. Dia bukan seorang petinggi negeri . Apalagi seorang tokoh yang melegenda. Tak ada jasa berarti yang dapat diberikannya kepada negeri ini. Dia bukan seorang tokoh nasional layaknya seorang R.A. Kartini. Tapi dimataku dia lebih dari seorang kartini. Dia pahlawan dalam keluargaku. Dia malaikatku. Dia Guardian dalam hidupku. Dialah ibuku. Tentu sebelum menyebut kata ibu, selayaknya kata Guardian kusematkan kepada Dia yang telah menciptakanku. Dialah Tuhanku. Allah SWT. Tapi Gelar Guardian tentu tidak setara dengan asma-asmanya. Nama-nama indahnya jauh berada di level paling atas dibandingkan dengan kata Guardian. Tentu. Karena kata Guardian adalh gelar yang dibuat oleh manusia. Sementara nama-namaNya telah tertulis dalm kitabnya yang tentu merupakan ‘Maha KaryaNya’ sendiri. Apalah arti karya manusia dibanding dengan ‘karyaNya’.
Bilamana seseorang dapat dikatakan sebagai guardian??? Tentu saat ia mampu untuk memberikan jasa yang berarti kepada orang lain. Menjadikan Gelap berubah menjadi terang. Mengubah padang pasir menjadi padang rumput hijau yang sedap dipandang mata. Menyulap gubuk menjadi istana Sulaiman. dan banyak keajaiban lain yang dapat dilakukannya. Dia yang menentramkan. Dia yang mendamaikan. Dia yang membawaa kesejukan. Menjanjikan keindahan. Dialah yang pantas menggandeng gelar The Guardian. Ketika kita sedih, dia akan menjelma layaknya seorang badut. Menghibur kita, hingga rasa sedih berubah menjadi sebuah simpul senyum yang indah. Ketika kita takut, dia akan mengepakkan sayapnya. Memeluk kita hingga kita terlelap didalamnya dan melupakan segala keresahan. Ketika kita tak sanggup berdiri,dia menawarkan punggungnya. Menggandeng kita ketempat yang dituju. Dan saat kita tertawa, dia akan ikut merasaakn kebahagiaan kita. Bahkan terkadang dia akan menolong kita sebelum kita memperoleh masalah. Begitu berartinya nilai seorang Guardian.
Banyak hal yang melatarbelakangi seseorang memberikan gelar Teuardian kepada orang lain. Mari bercerita tentang sebuah legenda dari negeri 1001 impian. Disan ada Aladin dan lampu gosoknya. Saat Aladin menggosok lampu tersebut, dengan sekejap keluarlah sang jin yang mampu mengabulkan segala keinginan Aladin. Hal ini dilakukan sang jin karena merasa berhutang budi atas jasa aladi yang telah mengeluarkan dirinya dari dalam lampu tersebut. The Guardian. Seperti itulah peranan sang jin bagi seorang Aladin. Dan balas jasa adalah hal yang melatarbelakangi jadinya jin sebagi guardian untuk Aladin. Berbelok ke kisah yang lain. Disana ada Cinderella. Tak ketinggalan sepatu kacanya dan tentu saja peri yang menolongnya sehingga Cinderella mampu mengahdiri pesta dansa di istana pangeran. Sang Peri menolong Cinderella karena kepribadian Cinderella. Cinderella yang baik hati dan teraniaya. Rasa iba. Mungkin itulah yang melatar belakangi sang peri menjadi The Guardian untuk Cinderella. Dan apa yang melatarbelakangi diri saya membrikan gelar The Guardian kepada ibu saya?? Itu karena keberuntungan. Keberuntungan karena saya lahir dari rahim seorang perepuan seperti dia.. Mungkin jika saya lahir dari rahim ibu tiri Cinderella, predikat Guardian tidak akan saya berikan kepada ibu saya itu. Karena tidak semua ibu pantas menggandeng gelar guardian. Atau mungkin tidak semua anak menyadari bahwa ia memiliki seorang ibu yang seperi malaikat. Yang pantas menggandeng gelar guardian.
I Grieve
3 minggu yang lalu

0 komentar:
Posting Komentar