Selasa, 11 Desember 2012

Tulus (not a singer)


Saya baru saja membaca ini. Senin kemarin saat jalanan macetnya pakai banget, saya juga baru saja menonton filmx bang Darwis, Bidadari-Bidadari Surga.
Apa kesamaan antara tulisan Bang Fahd dan juga tulisan yg divisualisasikan dari Bang Darwis (Tere Liye)?
Semuanya tentang ketulusan. Tanpa abal-abal. Memberi dan memberi. Urusan balasan semuanya terletak di atas tangan yang ditengadahkan kepada Tuhan. Atau mungkin mengharap pun mereka tidak pernah, karena mereka tahu bahwa janji Tuhan itu pasti. Tak perlu diminta.
Ah, saya iri. di awal tulisan, saya mendapati diri Isnin (dlm tulisan Bang Fahd) ada di dalam diri saya. Hingga sampai pada harmonisasi sajak ini

aku rela membiarkan diriku menjadi badai
atau mendung yang gelap, atau angin yang menakutkan
aku bersedia, aku cukup bahagia menjalaninya
untuk pelangi dan ketenangan orang-orang yang kusayangi
: untukku, sisanya, biarkan Tuhan menjalankan tugasNya

 Diriku hilang.
Tak kutemui lagi AKU pada ISNIN. Aku tak bisa pura-pura tegar dengan berkata: aku cukup bahagia menjalaninya. Sungguh.. kebahagaiaan macam yang tengah kita bicarakan ketika keluh kesah masih saja menghiasi bibir?

dan Laisa pada tulisan fiktif Bang Darwis, saya bahkan punya fisik yang lebih dari dia. Tak bisa dikatakan CANTIK, tapi sangat bisa dijadikan nilai plus untuk 'mengalahkan' Laisa dan merebut gelar "Bidadari-Bidadari Surga". Tapi nyatanya tidak. Atau mungkin kita butuh menjadi 'jelek' dulu untuk bisa mendapatkan hati yang bening??

Ayolah. Saya hanya ingin membahagiakan dua orang di rumah saya, yang belakangan ini sering memendam amarah karena kebiasaan baru saya: tidur lagi setelah shalat subuh :(. fufufu

XOXO

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.

Search Me

What's this?

|Catatan Random |Mengikat perasaan |Capture memory

Fellas

Bubbling here

Blogger templates