Selasa, 03 Juni 2014

Masak


Hai, saya datang lagi. Masih dengan kekalutan karena hilangnya passion menulis. Teruss... yang ini namanya apa put kalau bukan nulis? yang ini namanya ngetik pemirsahh hehe.

Kamu darimana aja emangnya, Put?
Nowhere. Di atas kasur, ngulet-ngulet. Eh nggak juga sih, belakangan saya sering main ke dapur, ya mau-tak-mau. Peran saya sebagai anak perempuan yang paham akan kewajiban harus dimainkan.
Kalau main di dapur tuh, yang awalnya lapar trus masak sendiri trus pas masakannya jadi, laparnya ilang. Ya bukan karena masakan saya tidak enak juga (tapi gak enak banget!), mungkin kenyang aroma masakan kali ye jadinya full deluan. Alamat makin kojo' ini saya.

Selama keranjingan main di dapur, saya bisa mengambil satu kesimpulan: Hidup itu untuk makan meeen !
habis masak buat sarapan pagi, mikirin makanan buat siang. Habis masak buat siang, mikirin cemilan sore. Lanjut lagi, mikirin mau masak apa buat malam?? cekcekcek gak heran kalau dapur itu dijuluki rumah dalam rumahnya ibu. Pendeknya, kamarnya ibu. Apa kabar yang wanita karir ya?
Kalo kamu apa kabar? 

Hhh... semoga mama cepat sembuh.
Bukan masalah saya malas masak, tapi kasihan bapak kalau tiap hari harus makan masakan saya. Ya bukannya karena masakannya saya gak enak, tapi gak seenak bikinannya mama.

Apa masak memang harus menjadi harga mati buat perempuan?

ya sudahlah.
Sekali lagi saya mohon maaf kalau tulisan saya bikin capek ngebacanya.

Tidurlah! besok semoga bisa menghadiri acara Makassar International Writing Festival 2014 dengan riang gembira. Tidak hanya perginya, tapi pulangnya juga.
Senin, 02 Juni 2014

block!


umm..
Hai..
Assalmu'alaikum..
Selamat malam...

aduhh payah! kenapa akhir-akhir ini menulis jadi pekerjaan yang begitu susah!
kalau lagi tiduran, lagi konser tunggal di WC, kayaknya ide lagi segar-segarnya, eh.. pas mau di tulis jadi BLANK! lupa mau tulis apa! gak tau mulai darimana.

Kata-kata berseliweran saling jambak
Semua ingin menjadi yang semerbak...
Mereka berontak! kepalaku membengkak. Pekak.
Maka kutinggal talak.

Tiap harinya. Berulang kembali.
Hingga iapun berkata: kutinggal saja kau!

ya begitulah. rasanya teralu malas untuk mengorek-ngorek otak dan memilah kata yang tepat. passion juga hilang sepertinya. mungkin itu alasannya mengapa saya tidak mau menjadikan menulis sebagai profesi. Saya belum profesional, masih moody-an.
Awal tahun ini, saya menulis banyak. Mungkin karena sedang patah hati. Ya.. namanya juga nulis pake hati; hati-yang-sakit jadinya bahasa ngalir aja.

mmm... saya mulai dari cerita yang sederhana saja mungkin. 
Siang tadi menempuh jarak kurang lebih tiga puluh kilometer jauhnya. Ngantar Azzam balik ke rumah neneknya (mertua kakak saya). 

lalu, saya harus menulis apa lagi ya?
ah... sepertinya kejadian hari ini bukanlah tulisan yang bagus!

sudahlah. saya mau tidur saja.
paling tidak, malam ini saya sudah menulis daripada hanya menggerutu dan mengutuk ketidakmampuan saya menulis.


XOXO

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.

Search Me

What's this?

|Catatan Random |Mengikat perasaan |Capture memory

Fellas

Bubbling here

Blogger templates