"Selamat datang Desember."
Kebanyakan orang (jika tidak bisa mengatakan hampir semuanya) menuliskan itu saat bulan ini mulai menyapa. Tapi kenapa tidak denganmu?
Bukankah ini bulan yang paling kau tunggu? Bulan terakhir di
tahun ini.
Jika tak kau katakan, biar aku yang mewakilimu.
WELCOOOME DECEMBERR...
-
-
-
Kau bisa menambahkan doa-doamu pada bullet-bullet yang sudah kusediakan.
Ini memang bulan yang paling benar. Waktu dimana kau memutuskan untuk melakukan sesuau yang
paling benar.
Ya, kau tak bleh menunggu! Ambil kesempatan itu atau biarkan berlalu. Masihkah kau ingat bahwa aku pernah mengatakan itu padamu? Mungkin disana kau sedang mengernyitkan dahi karena yang kudengar darimu adalah kata ini: "Maksudnya?" hahaha kadang aku merasa jengkel sekaligus geli jika hal yang kecil saja tidak kau mengerti.
Itu namanya sikap. Saya suka orang yang punya sikap. Tapi kenapa baru sekarang kau munculkan itu? Setelah membuatku menunggu dah harus berpikir panjang. Jika ini muncul di awal, mungkin aku tidak butuh waktu yang
banyak untuk menimbang.
Tunasnya sudah tumbuh, asal kau tahu saja. Tapi kau justru
melakuan hal yang tepat ini.
Bagus!
Good job!
Hanya kenapa berita ini harus kudengar dari orang lain? kenapa kau tidak memberitahuku dari awal? meminta pendapatku? well, ini mungkin akan membuatku sedikit merasa penting.
Dan kenapa pada komuniasi yang terakhir bahkan kau tak mengucapkan salam perpisahan? you even try to seduce me (again). oh boy.. ini harus kau ubah. Seorang cowok boleh saja memiliknya, tapi tidak untuk seorang laki-laki.
Dan... apa alasanmu memilihnya? ah sudahlah.. ini tak penting untuk kuketahui.
Jika suatu saat kau mampir dan membaca ini, kau tak perlu melakukan apa-apa. Live life... itu juga yang kulakukan pada hidupku. Tak ada yang mesti disesali. Right, Kakak?
Sekarang berbahagialah..
Seperti doa terakhirku yang kau aminkan.
Barakallahu lakaa wa Baraka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii
khair.
