Kamis, 23 Juni 2011

won't be erased


“jadi bagaimana dong ka’?”

“Bermain cantik saja de’?”

Saya di suruh bermain cantik. Saya juga bingung bagaimana caranya. Saya tau betul watak bapak saya. Sebentar bilang begini, sebentar berputar 180 degree.

Bermain cantik=bermain pake akal. Tidak jujur, tapi gak bo’ong.

Susah2 gampang sebenarnya. Tapi jadi susah saja kalau yang mau dipermainkan cantik itu papap (bapak saya). Ottoke?

Sebenarnya hampir give up. Tapi tiba-tiba gak rela. Masih bisa usaha (sepertinya). Gaka mau menjadi looser, berpikir 2x untuk mundur. Tapi sungguh, bertahan pun menyakitkan.

Aishh…. Menunggu. Menunggu jawaban sang waktu. Tapi dalam proses menunggu, harus ada kata kerja: doing. Doing something. What should I do?



ANYONE CAN HELP ME????!

Rabu, 22 Juni 2011

Salah, ya tetap salah


Begitulah penyesalan. Datang terlambat. Bak polisi kesiangan, sok menjadi penghibur membawa topeng kemanusiawian bermodelkan kata: KHILAF. Salah, tetaplah salah. Menganggapnya sebagai pembenaran adalah salah yang merangkai salah. Salah kuadrat. Salah pangkat dua. Salah estafet.

Sungguh sebenarnya saya malu unuk memposting tulisan ini. Ini aib. Bukan untuk disebar. Tapi dalam setiap musibah, selalu ada hikmah yang meloncat-loncat minta ditengok. ambil hikmahnya ya... jangan tiru salahnya !

Ini tentang saya dan kelalaian saya.

Semalam saya mencoba untuk tidak memejamkan mata terlalu dini. Iming-iming final esok harinya mengharuskan mata saya melek lebih lama. Sayangnya saya termasuk tipe yang susah tidur larut malam. Makanya I need a partner in crime, and here it is….. a cup of cappuccino. Serius! Ini mampu membuat mata tidak terpejam sampai pergantian hari. Sayangnya, malam itu saya salah perhitungan.

Cappuccino itu terlalu manjur dan final saya dibatalkan berhubung keadaan kampus yang tidak kondusif (well, again and again… it’s all about fighting. Huuuf, Why it should happen tonight?). Honestly, saya cukup bersyukur karena final tidak jadi. Materi sebuku yang harus saya habiskan semalam susah masuk ke otak. Tetapi hal mustahil untuk mengeluarkan cappuccino dari perut agar tidak berefek.. Begadang akan membuat tubuh makin loyo. Mana saya baru sembuh dar demam. Lengkap sudah !

Saya baru bisa tidur pukul 2.30 dini hari. Itu artina, saya cuman punya waktu paling lama 2 setengah jam untuk tidur. Hal yang disayangkan kalo kehilangan subuh: salah satu waktu terbaik sepanjang hari (klik di sini untuk melihat keutamaan subuh). Saya bukannya mau sok-sokan ato apalah. Saya juga baru tau tentang ini setelah membaca sebuah buku. Dan wajarnya, ilmu itu harus diamalkan. Bukan diendapkan ato di biarkan lumutan di alam pikiran. Am I right? karenanya, saya coba pake alarm HP untuk bisa bangun, at least, pas subuh. Tapi… begitulah, rencana hanya tinggal rencana. Saya baru sadar kalo jam d HP saya eror. God.. ! bangun pukul 6.30 membuat saya lompat ke kamar mandi untuk wudhu dan lanjut sahalat 2 rakaat. 2 rakaat saja tapi malangnya saya tidak bisa khusyuk. Pikiran saya melayang, memikirkan apa kira-kira yang sedang ‘dipikirkan’ Allah? Marahkah ia? Atau ia maklum? Ah, masih juga saya membuat pembenaran. Jadinya, saya berpendapat subuh kali itu sungguh sia-sia. Sudah terlambat, tak bisa khusyuk pula. Bodohnya saya ini ! lalai, sungguh lalai.

Seharusnya malam itu saya tidak minum cappuccino, seharusnya saya bisa memprediksi kalau final bakal dibatalkan, seharusnya saya mengecek HP saya dulu sebelum memutuskan untuk memasang alarm, seharusnya semuanya bisa lebih baik, seharusnya, seharusnya…

Saya tidak hendak menyalahkan takdir. Ini tentang diri saya sendiri. Tentang kelalaian saya, tentang hal yang seharusnya saya antisipasi. Aisshh……

Rabb, jangan marah ya?..

XOXO

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.

Search Me

What's this?

|Catatan Random |Mengikat perasaan |Capture memory

Fellas

Bubbling here

Blogger templates