Perlahan air mata saya jatuh. Tanpa tahu sebabnya, saya coba mengusapnya. Tapi rombongannya makin banyak. Hingga terisak. Ini seperti panggilan dari hati untuk mata. Saya tahu itu, karena hati saya bergetar.
Sepertinya bermula dari berita yang sedang marak muncul di televisi. Awalnya saya adem kulkas saja, tak acuh.
"Ini hal biasa. Mereka tengah bermain. Pioner2 mulai digerakkan. Yang cerdas, akan menjadi pemenangnya. Tak peduli bagaimana caranya."
Tapi kemudian saya mulai melihat tawa kecut orang-orang. Tawa meremehkan. Saya benci itu. Sebenci saya pada fitnah-fitnah orang2 munafik.
Berlanjut, komentar-komentar yang menyudutkan, cacian penabuh genderang perang semuanya tengah bermekaran. Saya benci itu. Sebenci saya pada orang2 yang membusungkan dada, berjalan dengan angkuh, seakan di jidatnya tertulis: "Sayalah manusia paling benar."
Bukankah damai itu indah? Bukankah toleransi itu nikmat?
Saya sadar, jalan ini menuntut semua hal-hal yang saya benci itu terjadi. Mungkin itu yang membuat langkah saya gontai, dan mulai terlihat rapuh. Bukan soal internnya, tapi ini soal mereka-mereka. Saya yakin tujuan kita mulia. Saya tahu jenis perbincangan kita seperti apa. Saya tidak sedang bertaklid buta.
Tapi saya tidak tahan. Saya bosan dan saya muak dengan orang-orang itu. Saya tidak mau terbakar nafsu dan ikut-ikutan mengata-ngati mereka. Tidak. Karena saya bukan mereka.
Ah, media. Kau sangat hebat mengobrak-abrik perasaan orang. Yang suci kau hinakan, dan yang hina kau lindungi. Percaya kah kau dengan Tuhan, Media? huh? Tak takut kah kau dengannya?
I do, media. Sangat takut.
I Grieve
3 minggu yang lalu
