My Dearest Galang ...
D sini Guntur terus bergemuruh. Kilat seakan blitz-blitz yang keluar dari sebuah lensa foto. Ia seperti sedang mendokumentasikan kegiatan-kegiatan di sini dan (mungkin) ia akan melaporkannya kepada Tuannya.
Perasaanku mendung seperti cuaca malam ini, kasihku..
padahal semuanya berjalan lanjar hari ini. Kegiatan di kampus terkendali. Tugas-tugas untuk hari kedepan juga sudah (dan sementara) kupersiapkan. Aku tak mengerti dimana letak salahnya?
Aku tak tahu bagaimana di tempatmu. Aku juga tak tahu bagaimana perasaanmu malam ini. Seharusnya sebagai seorang kekasih, kau juga bisa merasakan apa yang sedang kurasakan.
Kata orang, itu yang disebut chemistry. Bagaimana denganmu? Kau percaya itu?
Okaaay! Jangan tertawai aku. Aku tak akan percaya lagi pada perkataan orang-orang itu.
Cinta kita beda. Iya kan?
Hhhhhhff.. aku lelah memikirkan apa yang sedang kau lakukan.
Kapan kau akan menelponku? Setidaknya untuk menanyakan kabarku atau melaporkan kabarmu. Aku rindu padamu..
Kasihku Galang..,
Kupikir aku butuh suasana baru. Atmosfer baru. I’m sick of this all. Kapan kau datang? Aku ingin langsung menceritakan semua kejenuhanku ini padamu disepanjang pinggir pantai sambil mendayuh sepeda-sepeda kita. Kau akan membiarkanku terus meracau hingga semua kekesalan dan kejenuhanku hilang (ya, seperti yang sudah-sudah kau lakukan). Hingga sampai ku hembuskan napas kekesalanku, aku bisa tebak apa yang akan kau katakan..
Bahwa aku akan tetap cantik kan walau sedang jenuh?
Kabari aku segera. Aku menunggumu.

0 komentar:
Posting Komentar