Masih ingat cerita tentang secangkir kopi pahit kita?
Ku rasa itu kisah kita yang akan terus membekas…
Aku menyayangimu, sangat sayang… semoga kau tenang di sana.
Aku tau kau orang baik. Terlepas dari kepercayaan kita yang berbeda..
Senin, 30 Mei 2011 pukul +-14.00. kau pergi.. padahal baru saja kususun rencana untuk menjengukmu. Kau bahkan tak mau menungguku dulu. Beberapaa hariiii saja. Saya mau mendengar lagi komentar terbarumu tentang kopi pahit kita. Tapi kau malah pergi.
Kata mama badanmu kurus. Saya bahkan tak bisa membayangkan itu. Badanmu yang gempal betul2 menyusut. Ya, aku menyaksikannya. Tapi aku terlambat, kau hanya menyisakan mayatmu untuk ku ajak bercerita. Tak bisakah roh mu menungguku sehari-2 hariiii saja?
Mei 2011 ini kututup dengan berita duka. Kakek meninggal. Ya, mungkin itu memang yang terbaik. Sudah lama dia keluar-masuk RS. Sepertinya fisiknya tak sanggup lagi menampung umurnya. Usianya ditutup di kepala 9. Saya kurang tau pasti 90 berapa umurnya. Kepala 9 cukup menandakan kelemahan fisiknya.
Kakek seorang nasrani. Mama muallaf* saya menjulukinya sebagai generasi pendobrak. Satu kesyukuran terbesar saya terlahir sebagai muslim. Tapi meskipun kakek nasrani, saya tetap sayang sama dia seperti saya sayang sama kakek saya yang muslim dari bapak saya . Seperti Rasulullah yang cinta pada pamannya.
Hari rabunya saya, bapak, Anti, dan tante saya berangkat ke toraja. Eka menyusul dari Palu hari jumatnya. Kakek hanya menyisakan mayatnya. Cultur orang toraja –yang mayoritas- Kristen memang seperti itu. Mayat akan disimpan beberapa hari dulu di rumah baru di kuburkan. Waktu saya cari informasi, kata mama paling cepat kakek di kubur bulan desember tahun ini*walaah.. paling cepat, Ma? Supaya tubuh mayat tetap awet maka jasadnya akan disuntikkan cairan pengawet, seperti formalin. Dan tau, pedisnya minta ampuuuun. Saya yang awalnya tidak mau nangis liat mayat kakek, akhirnya metikian air mata juga karena pedisnya formalin bercampur dengan duka. Pesta orang mati di Toraja lebih heboh dibanding dengan pesta pernikahannya. Saya kurang begitu tau adatnya sebenarnya, saya bahkan belum pernah ikut acara begituan. Cukup menyedihkan, mengingat ke-2 ortu saya asli sana. Mungkin nanti pas acara kakek, Put bakal kesana buat liat secara langsung.
Ada beberapa hal juga yang mesti saya wanti2 selama di toraja. Orang toraja –yg Kristen- itu halal dengan semua jenis daging*taulah apa yang maksud. Sementara kita yang muslim punya aturan. Bahkan panci masak pun tidak boleh disamakan. Sebagai muslim, kita dilarang untuk makan dari tempat bekas daging hewan haram. Oleh karena itu, saya jadi sempat khawatir. Tapi tidak mungkin dengan alasan itu saya tidak datang melihat kakek untuk terakhir kalinya *walau tinggal jasadnya saja. Makanya saya sudah beli 10 pop mi buat 4 hari. Selama disana perut saya juga gak enak, selalu mual. Jadi malas makan nasi. Makanya teman sehari2 saya, ya pop mi itu *nanti di Makassar baru perbaikan gizi. Tapi waktu hari kedua perut saya sudah mendingan dan rasanya ingin di supply lebih dari sekedar pop mi. dan untungnya saya tau klo urusan dapur di pegang sama mama. Saya sempat liat waktu mama simpan makanan di kamar. Dan ternyata itu disengaja. Bukan, mama bukannya pelit dan hanya mau makan sendiri. Itu buat kami –Muslim- yang sengaja dipisah dengan makanan untuk yang lainnya. Alhamdulillah…… saya kira saya tidak akan menyentuh nasi selama di Toraja.
Banyak cerita lucu selama di sana. Apalagi tentang si bos kecil, Aulia. Hampir saja tuh bocah rasain kuah daging babi *iyyyeeeeuu untungnya Om saya liat. Buru-buru dia mengamankan si bos kecil. Eh, si bos malah marah-marah. Nasinya di buang. Lalu kuah daging babi tadi digantinya dengan air teh. Iya, nasinya disiram pake teh, tapi ujung2nya gak dimakan. Dasar bocah!
Selama disana Aulia punya banyak teman baru, kawan kampungnya. FYI, Karena udara disana dingin jadinya kulit sensitive. Gampang kering. Dan tau apa yang terjadi dengan kulit kaki aulia? Bersisik, man.. ! ckckck. Akhirnya handbody Anti saya pake buat menyapu kulit kakinya yang bersisik itu. Bagaimana kakinya gak ancur, klo pake sandal saja si bos sudah tidak mau. Udah jadi anak kampung tulen dia ! haha..
Berkat Aulia, kesedihan kami bisa sedikit terobati, terutama mama.
Hikmahnya dari ini, kelurga saya bisa ngumpul lengkap. Papap, mama, eka, anti, saya, dan bos kecil, Aulia. Biasanya ini hanya terjadi klo lebaran tiba.
Tuhan memang Maha Adil, dibalik duka yang diberikannya selalu ada bahagia yang terselip. Makasih ya Allah..

0 komentar:
Posting Komentar