Minggu, 03 Februari 2013

lamaran kerja #2


Sudah hari ahad. Berarti sepekan lebih 2 hari. Belum ada panggilan artinya gak keterima.
Ya sudahlah. Belum rezkinya.

Ini sudah kedua kalinya saya melamar kerjaan. Kali pertama, udah sampai tahap microteaching. Bahkan udah di telpon (yg sepertinya buat ngomongin kontrak) tapi saya lepas begitu saja. Kali kedua ini gak ada kabar sama sekali. Ya nggak papa. Mau apa-apa juga gak ada guna.

Sangat berharap bisa keterima sebenarnya. Mengingat usahanya ituuuu.... sampai-sampai sol sepatu saya copot.

Jadi rencanya siang itu saya niat buat masukin berkas di daerah Bawakaraeng. Berhubung gak punya map, saya pun singgah beli map sekalin alteko buat ngelem sendal saya yang mulai nganga minta di kasi makan. Waktu di petepete saya sempat bingung, ini ngelem sendalnya gimana yak? masa iya saya angkat sendal saya trus ngelem aja gitu , berasa tuh angkot milik sendiri. Tengsin juga. Akhirnya saya berkali-kali nunduk sambil curi-curi buat ngelem.
Di tengah jalan teman saya ngabarin biar langsung ke daerah Sumigo sekalian wawancara soalnya bigbosnya ada di sana.
WHAT? WAWANCARA? artinya saya dan si bos bakal duduk berhadapan? Yaiyalah masa si bos duduk di lantai trus saya ongkang-ongkang kaki di atasa kursi. Bisa digeplak pala saya.
Trus sayanya di introgasi gitu? In English for sure?Dan saya sama sekali buta jalan untuk daerah situ. Gosh..

Bermodalkan niat dan si encun yang bersedia menemani, akhirnya saya nyomot dah tuh petepete yang menuju daerah sana. Di tengah jalan (again!) teman saya ngabarin lagi BAHWASANYA si bos udah capcus ke daerah Monginsidi.

*Petir menyambar *kilat bertalu-talu. Dan saya mulai lebay.

Yasudahlah. Akhirnya saya putuskan makan siang di dekat MP, sudah jam segini juga.
Abis makan, saya masuk ke mall buat shalat dan nyari alas kaki soalnya sendal saya ternyata gak suka makan alteko. Pengennya yang lebih berkelas katanya. Bah, padahal dia kan berkasta rendah scara tempatnya selalu di bawah dan diinjak-injak pula.

Pas mau keluar mall eh eh sol sendal saya lepas. Kalau aja bawa mentos, udah bergaya sok cool saya sambil ngelepas sol sepatu yang sebelah  Seperti yang di iklan-iklan itu. Dan untung saja, saya sudah beli sendal baru yang masih diplastikin. Ganti sendal.

Lanjut perjalanan dan masih bermodalkan niat, encun, dan petepete.

Nyasar! saya samasekali gak tau tempatnya dimana. Bolak-balik ganti petepete. Mana langit mulai gelap karena mendung. Akhirnya saya naik becak dan minta daengnya supaya diantar ke tempat yang dimaksud. Iya, saya gak modal buat naik taksi, Pemirsa! Puas??

Nyampe. Wawancara, sret sret sret udah. Segitu doang? gak sampai 5 menit ini mah. Terbayang-bayang perjuangan saya kesini yang hampir setengah hari. Aduh buyuuuuuung..

Tapi gak papa ya. Namanya juga perjuangan gak selalu manis. Yang penting udah berani melangkah dan akhirnya punya pengalaman buat di jadiin pelajaran ke depannya.
Tetap semangat kakaaaaa !


Rabu, 30 Januari 2013

Duri dimana-mana


Perlahan air mata saya jatuh. Tanpa tahu sebabnya, saya coba mengusapnya. Tapi rombongannya makin banyak. Hingga terisak. Ini seperti panggilan dari hati untuk mata. Saya tahu itu, karena hati saya bergetar.

Sepertinya bermula dari berita yang sedang marak muncul di televisi. Awalnya saya adem kulkas saja, tak acuh.  
"Ini hal biasa. Mereka tengah bermain. Pioner2 mulai digerakkan. Yang cerdas, akan menjadi pemenangnya. Tak peduli bagaimana caranya."

Tapi kemudian saya mulai melihat tawa kecut orang-orang. Tawa meremehkan. Saya benci itu. Sebenci saya pada fitnah-fitnah orang2 munafik.

Berlanjut, komentar-komentar yang menyudutkan, cacian penabuh genderang perang semuanya tengah bermekaran. Saya benci itu. Sebenci saya pada orang2 yang membusungkan dada, berjalan dengan angkuh, seakan di jidatnya tertulis: "Sayalah manusia paling benar."

Bukankah damai itu indah? Bukankah toleransi itu nikmat?

Saya sadar, jalan ini menuntut semua hal-hal yang saya benci itu terjadi. Mungkin itu yang membuat langkah saya gontai, dan mulai terlihat rapuh. Bukan soal internnya, tapi ini soal mereka-mereka. Saya yakin tujuan kita mulia. Saya tahu jenis perbincangan kita seperti apa.  Saya tidak sedang bertaklid buta.
Tapi saya tidak tahan. Saya bosan dan saya muak dengan orang-orang itu. Saya tidak mau terbakar nafsu dan ikut-ikutan mengata-ngati mereka. Tidak. Karena saya bukan mereka.


Ah, media. Kau sangat hebat mengobrak-abrik perasaan orang. Yang suci kau hinakan, dan yang hina kau lindungi. Percaya kah kau dengan Tuhan, Media? huh? Tak takut kah kau dengannya?
I do, media. Sangat takut.
Sabtu, 26 Januari 2013

Friend or foe


Jangan pernah dengarkan, Galang!
Mereka yang mengatakan bahwa kau tak punya teman. Kau sendiri. Temanmu hanyalah pojok kamar yang dingin dan dendangan-dendangan merdu dari petikan gitarmu.

Tak perlu iri dengan mereka yang banyak tertawa, banyak berkumpul, dan (terlihat) sepertinya baik-baik saja.
Sini aku bisikkan sesuatu, Galang: "Those are fake smiles". Percaya padaku.
Mereka saling berbagi senyum di depan. Tapi apa kau tahu apa yang mereka lakukan di belakang? mereka sibuk saling mencela, saling membongkar keburukanan masing-masing.

"alaaa.. foto profilnya sok banget! cantik juga tidak."
"mobil sedan ji lagi. Belum pi itu pajero."
"iiii... anu ji itu pekerjaannya bapaknya."

Halooo.. situ okey? situ sempurna???
Aku terperangkap waktu itu, Galang. Ingin ku tutup saja telingaku tapi mengapa malah senyumku yang mengembang.
Ya, aku tersenyum tapi dalam hati aku merasa jijik. Dan... ya, aku sama saja dengan mereka. Akulah sang ahli senyum tapi lihat! aku sedang mengolok-olok mereka di dalam hatiku.

Bertemanlah sebanyak mungkin. Tapi jangan lupa ikuti kata hatimu. Jika tak kau suka, maka tinggalkan.

For real, aku masih punya masalah dengan hal itu, Galang.
Pertanyaanku begini, jika itu sebuah kebaikan tetapi aku tidak merasa nyaman dengannya, apa harus aku tinggalkan?

XOXO

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.

Search Me

What's this?

|Catatan Random |Mengikat perasaan |Capture memory

Fellas

Bubbling here

Blogger templates