Hari ini undangan ke-3 mu datang. Dan kali ini saya yang menerimanya. 1 undangan dari keluargamu, 2 lainnya dari keluarga perempuanmu.
Ya ampuuuunn... bahkan kau punya 3 jenis undangan dan tidak ada satupun nama saya di dalamnya. Bukan, bukan untuk bersanding dengan namamu. Setidaknya namaku bisa tertera di label undangan untuk para tamu yang dibawahnya akan tertulis: Mohon maaf jika nama dan gelar salah.
Kenapa tidak ada undangan untukku?
Apa kau merasa cukup dengan hanya mengundang orang tua dan kakakku? Bagaimana dengan perempuan-perempuan yang lainnya, apa kau mengundangnya?
Selamat malam, Papa.
Kau tak ingin menanyakan sesuatu padaku?
Apa saja.. segala hal yang berkaitan dengan 'itu'
Mungkin tentang kabarku? atau apakah aku tahu kabar itu?
entahlah,
tapi aku merasa kau seperti menyembunyikan sesuatu.
Jika tentang sakit hati, maka kau (sedikit) salah.
Jika ada perasaan tak enak, hey aku ini anakmu. Kau bisa menanyakan apapun yang kau mau?
ohya, aku lupa mengabarimu bahwa aku adalah seorang artis yang hebat. Kau tak perlu khawatir.
Aku baik-baik saja, Pak.
Ini keputusanku, dan kemudian menjadi keputusannya.
Kebanyakan orang (jika tidak bisa mengatakan hampir semuanya) menuliskan itu saat bulan ini mulai menyapa. Tapi kenapa tidak denganmu?
Bukankah ini bulan yang paling kau tunggu? Bulan terakhir di
tahun ini.
Jika tak kau katakan, biar aku yang mewakilimu.
WELCOOOME DECEMBERR...
-
-
-
Kau bisa menambahkan doa-doamu pada bullet-bullet yang sudah kusediakan.
Ini memang bulan yang paling benar. Waktu dimana kau memutuskan untuk melakukan sesuau yang
paling benar.
Ya, kau tak bleh menunggu! Ambil kesempatan itu atau biarkan berlalu. Masihkah kau ingat bahwa aku pernah mengatakan itu padamu? Mungkin disana kau sedang mengernyitkan dahi karena yang kudengar darimu adalah kata ini: "Maksudnya?" hahaha kadang aku merasa jengkel sekaligus geli jika hal yang kecil saja tidak kau mengerti.
Itu namanya sikap. Saya suka orang yang punya sikap. Tapi kenapa baru sekarang kau munculkan itu? Setelah membuatku menunggu dah harus berpikir panjang. Jika ini muncul di awal, mungkin aku tidak butuh waktu yang
banyak untuk menimbang.
Dan polosnya... kupikir waktu itu akan kau berikan kepadaku.
Tunasnya sudah tumbuh, asal kau tahu saja. Tapi kau justru
melakuan hal yang tepat ini.
Bagus!
Good job!
Hanya kenapa berita ini harus kudengar dari orang lain? kenapa kau tidak memberitahuku dari awal? meminta pendapatku? well, ini mungkin akan membuatku sedikit merasa penting.
Dan kenapa pada komuniasi yang terakhir bahkan kau tak mengucapkan salam perpisahan? you even try to seduce me (again). oh boy.. ini harus kau ubah. Seorang cowok boleh saja memiliknya, tapi tidak untuk seorang laki-laki.
Dan... apa alasanmu memilihnya? ah sudahlah.. ini tak penting untuk kuketahui.
Jika suatu saat kau mampir dan membaca ini, kau tak perlu melakukan apa-apa. Live life... itu juga yang kulakukan pada hidupku. Tak ada yang mesti disesali. Right, Kakak?
Sekarang berbahagialah..
Seperti doa terakhirku yang kau aminkan.
Barakallahu lakaa wa Baraka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii
khair.